Rabu, 18 Desember 2013

Analisis Pengaruh Elastisitas Harga pada Kurva Supply & Demand Produk Sekunder

Analisis Pengaruh Elastisitas Harga pada Kurva Supply & Demand Produk Sekunder

Berbicara tentang elastisitas sangat lebih dikenal dalam ilmu matematika & ilmu fisika. Namun seiring berkembangnya zaman, ilmu ekonomi pun menggunakan elastisitas untuk mengukur pengaruh berapa persen satu variabel akan berubah, bila satu variabel lain berubah satu persen?. Analisis ini disebut analisis sensitivitas atau elastisitas. Konsep elastisitas ini digunakan untuk meramalkan apa yang akan barang/jasa dinaikkan. Angka elastisitas (koefisien elastisitas) adalah bilangan yang menunjukkan berapa persen satu variabel tak bebas akan berubah, sebagai reaksi karena satu variabel lain (variabel bebas) berubah satu persen.
Pada analisis kali ini, kelompok kami akan membahas tentang pengaruh elastisitas harga terhadap pemintaan & penawaran produk sekunder. Sebelum kita membahas lebih jauh, kami akan menjelaskan mengenai Elastisitas Harga itu sendiri. Definisi Elastisitas Harga adalah elastisitas mengukur berapa persen permintaan terhadap suatu barang berubah bila harganya berubah sebesar satu persen. Berikut rumus Elastisitas Harga (Price Elasticity of Demand) :

Berikut macam-macam angka elastisitas harga :
1.      Inelastis (Ep < 1)
Perubahan permintaan (dalam persentase) lebih kecil daripada perubahaan harga. Kalau harga naik sebesar 10%, menyebabkan permintaan turun sebesar 5-6%. Artinya, walaupun harga naik sudah cukup besar, namun permintaan akan barang tersebut juga tidak berkurang terlalu banyak (tidak terlalu signifikan). Contoh barang yang memiliki permintaan inelastic adalah permintaan barang pokok seperti beras, minyak dll.

2.      Elastis (Ep > 1)
Permintaan terhadap suatu barang dikatakan elastis bila perubahan harga suatu barang menyebabkan perubahan permintaan yang besar. Misalnya,bila harga turun 10% menyebabkan naik 20% . karena itu nilai EP lebih besar dari satu. Barang mewah seperti mobil umumnya permintaannya elastis.
3.      Elastis Uniter (Ep = 1)
Adalah ini merupakan tingkat yang paling tinggi dari kemungkinan elastisitas, dimana respon yang paling besar dari jumlah barang yang diminta terhadap harga, artinya jika harga naik 10%, permintaan barang turun 10% juga.
4.      Inelastis Sempurna (Ep = 0)
Kebalikan dari Inelastis Sempurna, tingkat paling rendah dari elastisitas, dimana respon yang jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga adalah sangat kecil, artinya berapapun harga suatu barang, orang akan tetap membeli jumlah yang dibutuhkan.

5.      Elastisitas tak terhingga (Ep = )
)
Perubahan harga sedikit saja menyebabkan perubahan permintaan tak terbilang besarnya. Elastisitas semacam ini jarang terjadi pada kehidupan bisnis.
Setelah membahas secara detail, pada paragraph selanjutnya kita akan membahas tentang factor dari elastisitas harga yang berpengaruh terhadap permintaan barang sekunder :
1.      Tersedia atau tidaknya barang pengganti di pasar.
2.      Jumlah pengguna atau tingkat kebutuhan dari barang tersebut
3.      Proporsi kenaikan harga terhadap pendapatan konsumen
4.      Periode waktu yang tersedia untuk menyesuaikan terhadap perubahan harga /periode waktu penggunaan barang tersebut.
Selanjutnya, setelah mengetahui factor dari elastisitas harga yang berpengaruh terhadap barang sekunder, kita akan membahas factor-faktor dari elastisitas harga yang berpengaruh terhadap penawaran barang sekunder :
1.      Jenis Produk
2.      Sifat Perubahan Biaya Produksi
3.      Jangka waktu

Kesimpulan tentang analisis diatas bahwa pengaruh elastisitas harga pada permintaan barang sekunder akan mengalami kurva yang elastis (Ep > 1) sebab orang akan tetap cenderung membeli karena barang tersebut biasanya merupakan bahan pelengkap atau cenderung hamper bisa disebut juga barang sekunder bagi sebagian orang, contohnya : televisi, motor, handphone dll. Sama halnya dengan permintaan, pengaruh elastisitas harga terhadap penawaran barang sekunder cenderung elastis, (Ep > 1). Hal ini terjadi disebabkan bahwa jika perusahaan ingin memasarkan produk sekunder mereka akan memilih mengeluarkan biaya tambahan untuk pemasaran yang tidak terlalu besar agar harga yang dilepas ke pasaran dapat bersaing dengan harga dari produk lain.

Sumber :
Buku Teori Ekonomi Mikro, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, http://dhanidhani.wordpress.com/2011/10/13/pendahuluan-perilaku-konsumen/


Kamis, 12 Desember 2013

Tugas Akhir 4- Dampak tabungan dan investasi pada LEAKAGE ALIRAN EKONOMI

Dampak tabungan dan investasi pada LEAKAGE ALIRAN EKONOMI

Dengan menggunakan diagram melingkar dengan memperhatikan adanya tabungan, akan dijelaskan mengenai kebocoran atau leakage pada aliran ekonomi.

Biasanya untuk pendapatan dinyatakan dengan symbol huruf Y. Dari gambar di atas terlihat bahwa hubungan antara pendapatan, konsumsi, dan tabungan dapat dituliskan sebagai  Y = C +  S  . Dengan adanya tabungan berarti pengusaha membayar kepada konsumen untuk pembelian factor produksi  (Y) lebih besar daripada yang diterima dari konsumen untuk pembelian barang dan jasa (C). Dengan kata lain biaya pembelian factor produksi lebih besar dari hasil penjualan barang, sehingga ada sebagian keadaan ini produsen dapat melakukan dua hal, yaitu:
a.       Menurunkan harga
b.      Mengurangi produksi sampai sejumlah yang dibeli oleh konsumen.
Apabila alternative pertama yang diambil, diharapkan konsumen membeli lebih banyak sehingga kelebihan produksi dapat dijual. Kadangkala produsen menderita penurunan keuntungan dengan penurunan harga tersebut. Karna keuntungan (dividend) termasuk di dalam pendapatan (Y), maka pendapatan akan mengalami pernurunan. Apabila alternative yang kedua (mengurangi produksi) yang dipilih, maka produsen akan mengurangi pembelian factor produksi. Tindakan ini akan mengurangi pendapatan konsumen. Dengan demikian apakah tindakan yang pertama atau kedua, semuanya akan mengakibatkan penurunan pendapatan (Y).
Penurunan pendapatan ini akan berjalan terus sampai pendapatan (Y) = konsumsi (C), yakni tabungan (S) kembali sama dengan nol.
Dan analisis di  atas nampaknya tabungan menyebabkan kontraksi kegiatan ekonomi. Tetapi di dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Dengan adanya lembaga keuangan (bank keuangan) konsumen menabung uangnya di sana, yang kemudian oleh bank dipinjamkan kepada produsen untuk investasi. Pengertian investasi adalah pembelian barang modal, yakni barang yang dipakai untuk menghasilkan barang lain. Kenaikan investasi dapat mendorong kenaikan pendapatan. Apabila tabungan (S) merupakan kebocoran (leakage) dari aliran melingkar, maka investasi (I) merupakan injeksi ke dalam aliran melingkar tersebut. Peranan investasi dalam aliran melingkar dapat digambarkan sebagai berikut:


Injeksi dana investasi memungkinkan produsen menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak. Untuk itu dia akan membeli factor produksi yang lebih banyak juga. Sebagai hasilnya pendapatan konsumen tersebut akan mendorong mereka menambah konsumsi, tabungan atau keduanya. Posisi keseimbangan akan tercapai manakala besarnya injeksi (investasi) sama dengan kebocoran (tabungan).
Hal ini terjadi pada tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Tentu saja kenaikan pendapatan tersebut terealisir apabila masih ada factor produksi yang belum digunakan sepenuhnya (masih menganggur). Jika tidak ada factor produksi yang menganggur, tambahan investasi akan mengakibatkan kenaikan harga saja (inflasi).
Hubungan antara tabungan dan investasi adalah sebagai berikut. Apabila tabungan lebih besar daripada investasi maka dampaknya akan menurunkan pendapatan, sebaliknya apabila investasi lebih besar dan tabungan kegiatan ekonomi cenderung meningkat. Keseimbangan ekonomi akan terjadi apabila tabungan tabungan sama dengan investasi.

Sumber :

Tugas Akhir 1- PENGARUH KONJUNGTUR PADA PEREKONOMIAN INDONESIA

PENGARUH KONJUNGTUR
PADA PEREKONOMIAN INDONESIA

Konjungtur atau business cycle adalah fluktuasi atau perubahan yang terjadi pada kegiatan perekonomian atau gelombang naik-turun yang relative teratur dan pada rentang waktu tertentu. Yang menjadi pokok permasalahan timbulnya konjungtur menurut teori moneter adalah jumlah uang yang beredar di masyarakat. Apabila masyarakat banyak memegang uang, maka akan timbul kecenderungan mempergunakan uangnya untuk keperluan konsumsi dan investasi, sedangkan sebaliknya, apabila uang sulit diperoleh, maka pengeluaran dunia bisnis dan masyarakat juga akan berkurang. Pengurangan jumlah uang sampai pada tingkat minimum ini akan menghalangi upaya dari perusahaan untuk melakukan ekspansi.

Kecenderungan masyarakat untuk mengurangi tingkat konsumsinya dan lebih banyak melakukan kegiatan menabung akan menyebabkan pendapatan total perusahaan tidak akan mencukupi untuk mempekerjakan semua angkatan kerja. Ini juga menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat berkurang, walaupun bisa dijadikan sebagai sumber investasi tapi kurang menguntungkan. Sedangkan investasi sebagai kekuatan pendorong yang menentukan konjungtur sehingga pasti akan berpengaruh terhadap gerakan konjungtur.

            Adanya peperangan, penemuan tambang emas, kejadian-kejadian politik, dan perubahan cuaca juga menyebabkan terjadinya goncangan ekstern yang mendorong timbulnya konjungtur. Goncangan-goncangan ini akan memberikan dorongan ke atas maupun ke bawah pada sistem perekonomian dan akan lebih diperkuat lagi oleh faktor-faktor intern.

            Pengaruh dari adanya konjungtur terhadap perekonomian Indonesia sangat terasa pada neraca perdagangan Indonesia. Hal ini disebabkan karena Indonesia selama ini mengadakan hubungan dagang dengan negara-negara di dunia, karena itu terjadinya perubahan volume ekspor dan impor akan tampak sekali. Selain berpengaruh terhadap neraca perdagangan aktivitas perekonomian di dalam negeri, juga akan berpengaruh terhadap aktivitas usaha, penyerapan tenaga kerja, tingkat investasi, tingkat harga di dalam negeri, dan sebagainya.
            Usaha pemerintah Indonesia untuk menanggulangi akibat adanya konjungtur adalah melalui beberapa kebijaksanaan fiskal dan moneter seperti deregulasi, diberlakukannya undang-undang perpajakan yang baru, dan menjaga kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang asing.

•         Gelombang Konjungtur (economic cycle) adalah naik turunnya kegiatan ekonomi dari waktu ke waktu (Business Cycle)
•         Naik turunnya kegiatan ekonomi membentuk satu gelombang. Kegiatan ekonomi:
-      Menaik (recovery)
-      Sampai pada puncak paling atas (prosperity)
-      Menurun (recession)
-       Sampai puncak paling bawah (depression


Berikut beberapa pendapat para ahli mengenai konjungtur:
•         Jevons dan Moore (1923):  Fluktuasi kegiatan ekonomi terjadi karena adanya perubahan alam
•         Pigou (1927): Fluktuasi kegiatan ekonomi  terjadi karena adanya faktor psikologis para pelaku bisnis (harapan pesimistis atau optimistis
•         Malthus (1936): penyebab munculnya krisis ekonomi karena adanya kekurangan konsumsi (under consumption). Alasan: sektor industri manufaktur makin berkembang dan masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan ekonomi pada sektor tersebut.
•         Mitchell (1951): Fluktuasi kegiatan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari sistem ekonomi kapitalis-liberalis.
•         Hawtrey (1928) dan Friedman (1957): Fluktuasi ekonomi disebabkan oleh sistem moneter dan sistem kredit.
•         Shcumpeter (1934) menyebut penyebab utama tidak stabilnya inovasi teknologi. 
•         Lucas dan Barro (1976), Fisher (1979), dan Phelps (1997): Ekspektasi masyarakat yang rasional sebagai penyebab fluktuasi ekonomi.
•         Keynes: Sistem moneter dan kredit bukan penyebab, tetapi merupakan akibat. Penyebab utama adalah tidak stabilnya investasi.
•         Siklus konjungtur kegiatan ekonomi menurut Ellis (1991) berbeda-beda.
-      Kondratif: setiap 50 tahun sekali
-      Juglar: 10 tahun sekali
-      Kitchin: 4 tahun sekali
-      Batra (1990): 60 tahun sekali
-      Mubyarto: 7 tahun sekali untuk perekonomian Indonesia (jawa:pitu-lungan).


Anatomi Siklus Ekonomi
1.        Tahap Ekspansi = kegiatan ekonomi cepat
yaitu tahap kegiatan ekonomi dalam perkembangan atau pertumbuhan yang cepat sampai tercapainya puncak kegiatan (masa “boom” atau “hausse” = konjungtur tinggi)
2.      Tahap Resesi = Kelesuan
Yaitu semula kemacetan yang timbul menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi terhenti (stagnasi) dan/atau mundur sedikit.
Jika berlangsung lama dan hebat, dimana semua sektor ekonomi ikut lesu maka kelesuan menjadi kemrosotan.
3.   Tahap Depresi = kemrosotan
Yaitu kemrosotan yang disebabkan antara lain banyak produksi berkurang, banyak pabrik tutup, banyak terjadi pengangguran (baisse atau konjungtur rendah). Tetapi akhirnya keadaan berubah lagi (titik balik bawah/trough)
4.   Tahap Recovery/Revival = pemulihan
Yaitu tahap yang mulai pulih kembali normal.
Indikator analisis siklus ekonomi
Pertumbuhan ekonomi atau jumlah output riil serta tingkat harga.


Durasi Siklus dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya
1.        Siklus Jangka Pendek (Kitchin Cycle)
§  Penemu: Joseph Kitchin (1923)
§  Durasi: 40 bulan
§  Faktor yang mempengaruhi: Custom & Nature
Pengaruh alamiah (Nature): iklim, pengaruh sinar matahari, curah hujan, kekuatan angin, gelombang laut memengaruhi aktivitas ekonomi.
Pengaruh adat-istiadat (Custom):  perayaan hari raya mempengaruhi permintaan masyarakat.
2.      Siklus Jangka Menengah (Juglar Cycle)
§  Penemu: Clement Juglar (1860)
§  Durasi: 7-11 tahun
§  Faktor yang memengaruhi: Sunspot
William Stanley Jevon menjelaskan: siklus ekonomi di bumi (perekonomian di Inggris) dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu bintik matahari (sunspot)yang berdaur ulang 11 tahun sekali, dimana akan mempengaruhi iklim/cuaca, sehingga memengaruhi output perekonomian, dan muaranya akan mempengaruhi output perekonomian nasional.
3.      Siklus Jangka Panjang (Kondratief Cycle)
§  Penemu: Nikolai D. Kondratief (1925)
§  Durasi: 48-60 tahun
§  Faktor yang memengaruhi: Invention & Innovation
Schumpeter menunjukkan bahwa siklus jangka panjang yang dialami di AS tahun 1787-1842 dipenngaruhi oleh penemuan & penerapan teknologi baru mesin uap dan melahirkan revolusi industri. Siklus panjang tahun 1843-1897 disebabkan penemuan kereta api.




Sumber :



Tugas Akhir 5- Analisis dan penerapan Konsep Budget dan Kepuasan Optimal

Analisis dan penerapan Konsep Budget
dan Kepuasan Optimal

Konsumen merupakan salah satu unsur yang cukup penting dalam dunia ekonomi. Manusia sendiri dapat menjadi produsen dan konsumen dalam waktu yang bersamaan, kemudian sebagai manusia yang dilahirkan dengan hawa nafsu maka kepuasaan dari hal sekecil apapun akan menjadi penting termasuk dalam mengonsumsi sesuatu.

      Kurva Indeferensi
Kurva indeferensi muncul karena adanya preferensi yang menunjukan bahwa kepuasaan tidak dapat dihitung namun hanya bisa dibandingkan. Kurva indeferensi merupakan tempat kedudukan masing-masing titik yang melambangkan kombinasi dua macam komoditas yang memberikan tingkat kepuasaan yang sama. Dalam satu kurva indeferensi setiap titik memiliki kepuasaan yang sama, jika dalam dua kurva yang berbeda memiliki satu titik yang berpotongan maka itu berarti tidak adanya konsistensi dalam kasus tersebut.
Ciri lain Kurva Indeferensi adalah bentuk kurva yang cembung terhadap titik origin (0) dan kemiringannya dari kiri atas ke kanan bawah. Kurva indeferensi yang cembung ke titik origin menjelaskan kadar penggantian marginal yang menggambarkan besarnya pengorbanan atas konsumsi suatu barang. Bentuk kurva indeferensi sebenarnya dapat menunjukkan berbagai tingkat kesediaan untuk menggantikan suatu barang, diantaranya substitusi sempurna dan komplemen sempurna. Substitusi sempurna akan menunjukan kesediaan seseorang unuk mengganti barang satu dengan barang yang lainnya. Sedangkan komplemen sempurna akan dijelaskan selanjutnya.



      Budget Line
Keinginan untuk memaksimalkan kepuasaan memiliki batasan, yaitu berapa besar dana yang tersedia untuk mencapai kepuasan yang setinggi-tingginya. Kurva Garis Anggaran (budget line) adalah kurva yang menunjukkan kombinasi konsumsi dua macam barang yang membutuhkan biaya (anggaran) yang sama besar. Kemiringan dari slope garis anggaran adalah negatif dan ketika kita notasikan garis anggaran dengan BL maka akan muncul persamaan berikut:
BL = Px Qx + Py Qy……..

Lalu tingkat kepuasan konsumen optimum dapat dicapai oleh seorang konsumen adalah ketika kurva indeferensi bersinggungan dengan garis anggaran.titik ini dikatakan maksimum karena merupakan pertemuan antara tingkat kepuasan yang ingin dicapai dengan anggaran yang tersedia untuk mengonsumsi kedua barang tersebut.
            Tidak hanya kepuasan optimum yang bisa dicapai menggunakan kurva garis anggaran, namun solusi optimal juga bisa didapatkan dengan memperhatikan garis anggaran. Diantaranya:
a.       Memaksimalkan tingkat kepuasan pada garis anggaran tertentu.
Ketika seseorang dihadapkan pada suatu garis anggaran tertentu dan ia hanya memiliki sejumlah uang. Maka sebagai solusi ia harus memilih kombinasi yang bisa mendapatakan kepuasan yang maksimum dengan menghabiskan seluruh dana yang tersedia.
b.      Minimalisasi garis anggran pada tingkat kepuasan tertentu.
Ketika seseorang telah merasa puas dengan hanya mengonsumsi sejumlah tertentu barang. Maka lebih baik ia menggunakan kombinasi yang memiliki kepuasan sama dengan yang lain namun menggunakan dana yang lebih rendah.


            Penggunaan Konsep Budget ini sangat berguna pada perencanaan keuangan pada individu, rumah tangga, maupun perusahaan. Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, setiap individu harus bisa mengatur dan memprioritaskan mana yang menjadi kebutuhan utama, dan mana yang kebutuhan belum mendesak. Apalagi setiap individu harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Karena dua hal tersebut sangat berbeda.
Kebanyakan masyarakat Indonesia yang memiliki tingkat konsumtif cukup tinggi, susah membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Barang-barang impor yang berlimpah sangat menggoda iman untuk membeli nya, dengan iming-iming discount dan strategi pemasaran lainnya, membuat para wanita (khususnya) membelanjakan uang mereka dengan tidak semestinya.
Hal ini mungkin bagi sebagian orang adalah tentang mencari kepuasan maksimal, gengsi, dan sebagai nya. Namun disini lah konsep budgeting seharusnya dipakai. Agar kepuasan optimal dapat dicapai, tanpa melakukan pemborosan.

Contoh Penerapan:
Seorang wanita memiliki gaji bulanan sebesar Rp 12.000.000,00. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya (seperti ongkos transportasi dan makan) ia menghabiskan Rp 3.000.000,00. Sisanya, ia harus membeli perlengkapan kosmetik nya yang sudah habis. Banyak teman-teman kantor nya yang memakai kosmetik dengan brand yang terkenal sehinga lebih mahal. Namun ia memilih membeli kosmetik sesuai kebutuhan nya dengan brand yang biasa, namun telah mendapat izin. Dengan ini, ia bisa membeli barang lain dengan uang yang tersisa, dan yang lebih baik nya lagi, ia bisa menabung untuk kebutuhan nya di masa depan dan kebutuhan tak terduga.

Sumber:

Tugas Akhir 6- ANALISIS KONSEP BACKWARD BENDING SUPPLY PADA SEKTOR TENAGA KERJA

ANALISIS KONSEP BACKWARD BENDING SUPPLY PADA SEKTOR TENAGA KERJA

            Pasokan tenaga kerja dapat dilihat melalui tiga skala yang berbeda, yaitu skala individu, skala industri dan ekonomi. Model simulasi Kurva Backward Bending Supply ini berfokus pada skala individu. Selain itu, Kurva Backward Bending Supply dapat digunakan dengan empat asumsi, yaitu:
Pertama, pekerja memilih waktu bekerja mereka sendiri. Terkait dengan asumsi bahwa para pekerja memilih waktu bekerja mereka sendiri, para pekerja dengan leluasa dapat memilih jumlah jam kerja mereka serta jumlah waktu luang mereka. Kedua, pekerja yang ada merupakan homogen. Terkait dengan asumsi pekerja yang ada merupakan homogen. Ketiga, tidak ada keterikatan kontrak, terkait dengan asumsi bahwa tidak ada keterikatan kontrak, para pekerja dalam hal ini tidak memiliki keterikatan kontrak dengan perusahaan.Keempat, para pekerja berusaha untuk meningkatkan utilitasnya. Terkait tentang asumsi bahwa setiap individu tentu akan berusaha untuk memaksimalkan utilitas mereka dalam jumlah tetap jam kerja (24 jam sehari, 365 hari setahun). Ini berarti, ada trade off (biaya kesempatan) antara berapa jam seseorang bekerja dan jumlah jam yang dihabiskan pada waktu luang. Hal ini juga diasumsikan bahwa bekerja merupakan barang inferior. Kunci untuk memahami prinsip ini adalah tentang konsep utilitas. Utilitas adalah tingkat kemampuan barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan manusia. Apabila konsumen mengonsumsi barang dalam jumlah yang semakin banyak maka kepuasan totalnya (TU) semakin meningkat namun tambahan kepuasannya (MU) semakin menurun. Masing-masing unit tambahan output yang dikonsumsi akan menambah kepuasan dengan jumlah yang semakin rendah.
            Dengan asumsi selera (tastes) dan preferensi tertentu maka dapat dilukiskan dalam kurva indeferen (IC). Kurva indeferen menunjukkan berbagai kombinasi barang X dan Y yang memberikan kepuasan total yang sama. Kurva IC yang terletak semakin jauh dari titik 0 menunujukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi.
            Slope kurva IC menunjukkan laju subtitusi marjinal (Marginal Rate of Substitution, MRS), yang menunjukkan berapa banyak seseorang bersedia mengurangi konsumsi suatu barang untuk ditukar dengan barang lain supaya tingkat kepuasannya tetap (masih berada dalam kurva indeferen yang sama).
            Garis anggaran menunjukkan batas jumlah barang-barang yang dapat dibeli konsumen dalam periode waktu tertentu dan ditentukan oleh tingkat harga dan tingkat pendapatan yang dimiliki. Biasa disebut kendala anggaran (budget constraint).
            Kenaikan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kanan, sejajar dengan garis anggaran semula (karena harga barang X dan Y tidak berubah). Penurunan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kiri. Kenaikan pendapatan tidak membuat slope garis anggaran berubah. Apabila harga salah satu barang berubah maka garis anggaran akan berotasi, sedangkan slopenya berubah.
            Misalnya, jika konsumen berada dalam keseimbangan, maka utilitas mereka membeli barang-barang dengan pendapatan yang mereka peroleh dalam satu jam terakhir akan sama dengan utilitas mereka ketika memperoleh keuntungan dari waktu luang satu jam terakhir.
            Jika upah riil meningkat dari W1 ke W2 kemudian karena penghasilan yang lebih tinggi individu akan memiliki utilitas yang lebih besar, maka mereka akan bersedia untuk meningkatkan jam kerja per tahun untuk L2. Selam bagian ini kurva efek substitusi adalah positif, efek pendapatan negatif, tetapi efek substitusi lebih besar daripada efek pendapatan. Oleh karena itu, kenaikan tingkat upah riil akan menyebabkan peningkatkan jumlah jam kerja.
            Namun, jika upah riil meningkat dari W2 ke W3, maka jumlah jam kerja per tahun akan jatuh dari L2 ke L3. Hal ini karena efek pendapatan lebih besar dari efek substitusi. Proses yang terlibat dalam keputusan untuk bekerja lebih atau kurang jam disebut pendapatan dan efek substitusi.
            Upah yang lebih tinggi berarti bahwa individu dapat bekerja dengan waktu yang lebih sedikit untuk mempertahankan pola-pola konsumsi yang sama antara barang dan jasa. Oleh karena itu, efek pendapatan akan berarti bahwa seseorang individu akan bekerja dengan waktu yang lebih sedikit. Namun, efek subtitusi adalah bahwa upah lebih tinggi akan berarti utilitas yang diperoleh dari kerja jam terakhir lebih besar daripada utilitas yang diperoleh dari satu jam waktu luang. Hal ini karena upah yang lebih tinggi berarti seseorang dapat membeli lebih banyak barang. Akibatnya, individu akan bekerja sebagai pengganti dari waktu luang sampai utilitas yang sama (yaitu konsumen kembali dalam keseimbangan antara pekerjaan dan waktu senggang).
            Isu yang menarik adalah bahwa individu memiliki karakteristik utilitas yang berbeda. Maka tingkat trade off antara utilitas dari satu jam bekerja dan utilitas dari satu jam bersantai akan berbeda. Ini menunjukkan bahwa elastisitas substitusi antara waktu luang dan konsumsi akan bervariasi. Kemungkinan bahwa keluarga berpenghasilan rendah akan cenderung kurang responsif terhadap perubahan upah daripada kelompok berpenghasilan lebih tinggi karena tingginya efek substitusi.       

          



Sumber: 


Tugas Akhir 3- Circulair Flow 4 sektor

Circulair Flow
4 sektor

Circulair Flow 4 Sektor merupakan interaksi timbal balik antara 4 pelaku ekonomi, yaitu rumah tangga, perusahaan, pemerintah, dan masyarakat luar negeri (Negara-negara lain).

Diagram Interaksi Pelaku Ekonomi Model Lengkap (4 Pelaku):


Aliran antara Rumah Tangga dan Perusahaan
Agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa, perusahaan memerlukan faktor-faktor produksi yang diperoleh dari rumah tangga. Di sini perusahaan dan rumah tangga akan bertemu di pasar input (pasar faktor-faktor produksi). Dari penggunaan faktor-faktor produksi tersebut perusahaan akan memberikan sewa, uang pembelian bahan baku, upah, bunga, dan laba kepada rumah tangga sebagai pemilik faktor-faktor produksi.

Sebaliknya, bila rumah tangga membutuhkan barang dan jasa, rumah tangga akan membelinya dari perusahaan. Di sini, rumah tangga dan perusahaan akan bertemu di pasar output (pasar barang dan jasa). Dalam penjualan barang dan jasa, perusahaan bisa menjualnya sendiri secara langsung atau bisa menggunakan jasa pedagang.

Jadi, untuk memenuhi kebutuhannya, rumah tangga akan menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari perusahaan untuk mengadakan pembelanjaan barang dan jasa. Dari pembelanjaan tersebut maka perusahaan akan memperoleh pendapatan yang pada saatnya nanti akan digunakan untuk membiayai produksi barang dan jasa. Pembiayaan tersebut berbentuk pemberian sewa, uang pembelian bahan baku, upah, bunga, dan laba, seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Aliran antara Pemerintah dengan Rumah Tangga dan Perusahaan
Sebagai salah satu pelaku ekonomi, pemerintah memproduksi barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dan perusahaan dengan tujuan untuk melayani kepentingan umum. Sehingga, barang dan jasa itu disebut dengan istilah barang dan jasa publik. Selain itu, produksi barang dan jasa tersebut berguna pula untuk menambah pendapatan negara. Barang dan jasa yang diproduksi pemerintah di antaranya minyak, gas, semen, baja, listrik, pendidikan, kesehatan, hukum, keamanan, jasa pos, dan lain-lain.

Oleh karena itu, pemerintah berhak memungut pajak dan fee (ongkos) serta menerima pendapatan dari penjualan barang-barang tersebut. Semua penerimaan yang diperoleh pemerintah di antaranya digunakan untuk membayar pegawai (guru, polisi, hakim, dokter, perawat, dan lain-lain), memberikan subsidi kepada rumah tangga (misalnya: subsidi BBM), serta subsidi kepada perusahaan (misalnya: subsidi terhadap produksi pertanian).

Aliran yang Berkaitan dengan Masyarakat Luar Negeri
Dalam kegiatan ekonomi dewasa ini, hubungan dengan masyarakat luar negeri merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan lagi. Hubungan dengan masyarakat luar negeri telah menciptakan terjadinya arus masuk barang dan jasa (impor barang dan jasa) serta arus masuk faktor-faktor produksi (impor faktor-faktor produksi). Selain itu, terjadi pula arus keluar barang dan jasa (ekspor barang dan jasa) serta arus keluar faktor-faktor produksi (ekspor faktor-faktor produksinya).

Dalam kegiatan impor barang dan jasa dari masyarakat luar negeri, negara kita harus melakukan sejumlah pembayaran kepada masyarakat luar negeri. Yaitu dengan memberikan uang pemblian bahan baku, upah, bunga,, sewa, da laba. Sebaliknya, dari kegiatan ekspor barang dan jasa kepada masyarakat luar negeri, negara kita akan mendapat sejumlah pendapatan dari masyarakat luar negerii, yaitu penjualan bahan baku, upah, bunga sewa, dan laba. Dari kegiatan impor faktor-faktor produksi, ada satu faktor produksi yang betul-betul dibutuhkan oleh negara kita, yakni faktor produksi modal.

Oleh karena itu, negara kita sangat memerlukan adanya investor-investor asing yang mau menanamkan modalnya ke Indonesia.

Manfaat Diagram Interaksi Pelaku Ekonomi
Dari diagram interaksi pelaku ekonomi diperoleh manfaat, baik bagi pemerintah maupun bagi masyarakat. Manfaat diagram pelaku ekonomi bagi pemerintah adalah sebagai berikut.

  • Sebagai alat bantu untuk membuat pola pembangunan nasional.
  • Sebagai alat bantu untuk mengatur dan mengontrol arus barang dan jasa serta faktor-faktor produksi yang terjadi di masyarakat.
  • Sebagai alat bantu untuk mengatur dan mengontrol arus barang dan jasa dan faktor-faktor produksi dari dan ke luar negeri.
  • Sebagai alat bantu untuk mengukur dan mengontrol arus peredaran uang.
  • Sebagai alat bantu untuk membuat APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).
  • Sebagai alat bantu untuk mengatur distribusi pendapatan nasional.
  • Sebagai media untuk menentukan struktur ekonomi nasional.
  • Sebagai sarana untuk mengetahui hak dan kewajiban pemerintah kepada masyarakat.

Sumber:


Tugas Akhir 2- KONSEP INTERAKSI 2 PELAKU (Model sederhana)

KONSEP INTERAKSI 2 PELAKU
(Model sederhana)

            Dalam kegiatan pokok ekonomi, perlu ada nya pelaku ekonomi untuk menjalankan kegiatan tersebut, baik produksi, distribusi maupun konsumsi. Pelaku ekonomi tersebut adalah:
1.      Rumah Tangga
2.      Masyarakat (domestic dan luar negeri)
3.      Perusahaan
4.      Pemerintah/Negara
Dalam menjalani peran nya masing-masing, ternyata keempat pelaku tersebut memiliki interaksi timbal balik, yang bila digambarkan dalam sebuah diagram akan menunjukkan suatu arus melingkar yang membentuk sebuah sistem. Diagram yang menunjukkan interaksi timbal balik antarpelaku ekonomi disebut diagram interaksi pelaku ekonomi (circulair flow diagram).

Terdapat dua model interaksi antar pelaku ekonomi, yakni model sederhana (dua pelaku) dan model lengkap (empat pelaku). Berikut akan dijelaskan interaksi model sederhana (2 pelaku).

Diagram Interaksi Ekonomi Model Sederhana (2 Pelaku):




Agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa, perusahaan memerlukan faktor-faktor produksi berupa tanah, bangunan, bahan baku, tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan yang diperolehnya dari rumah tangga. Di sini perusahaan dan rumah tangga akan bertemu di pasar input (pasar faktor-faktor produksi). Dari penggunaan faktor-faktor produksi tersebut perusahaan akan memberikan sewa, uang pembelian bahan baku, upah, bunga, dan laba kepada rumah tangga sebagai pemilik faktor-faktor produksi.

Sebaliknya, bila rumah tangga membutuhkan barang dan jasa, rumah tangga akan membelinya dari perusahaan. Di sini, rumah tangga dan perusahaan akan bertemu di pasar output (pasar barang dan jasa). Dalam penjualan barang dan jasa, perusahaan bisa menjualnya sendiri secara langsung atau bisa menggunakan jasa pedagang.

Jadi, untuk memenuhi kebutuhannya, rumah tangga akan menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari perusahaan untuk mengadakan pembelanjaan barang dan jasa. Dari pembelanjaan tersebut maka perusahaan akan memperoleh pendapatan yang pada saatnya nanti akan digunakan untuk membiayai produksi barang dan jasa. Pembiayaan tersebut berbentuk pemberian sewa, uang pembelian bahan baku, upah, bunga, dan laba, seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Contoh penerapannya:
1.      Interaksi antara produsen dan konsumen di pasar untuk mencapai kesepakatan harga.
2.      Konsumen rumah tangga membeli kebutuhan sehari-harinya di pasar.


Manfaat diagram pelaku ekonomi bagi masyarakat (rumah tangga) adalah sebagai berikut:
  • Sebagai media untuk mengetahui hak dan kewajiban masyarakat dalam kegiatan ekonomi bila dihubungkan dengan peran perusahaan, pemerintah, dan masyarakat luar negeri.
  • Sebagai media untuk mengetahui arus barang dan jasa serta faktor-faktor produksi yang terjadi dalam kehidupan.
  • Sebagai alat bantu untuk mengetahui jenis pekerjaan yang bisa dilakukan oleh masyarakat (misalnya, menjadi eksportir atau importir).
  • Sebagai sarana untuk memperluas wawasan.

Sumber: